Tentang Jejaring Sosial dan Hubungannya dengan Moral

 

Social MediaKasus Flo yang akhir-akhir ini muncul di berbagai media menambah panjang daftar perkara yang berawal dari social media. Memang tak bisa dipungkiri, di era internet seperti sekarang ini, rasanya hidup kita tak bisa dipisahkan dari segala hal yang ada hubungannya dengan informasi, termasuk berbagai macam aplikasi jejaring sosial yang kita gunakan setiap hari. Facebook, Twitter, Path, Blog, Instagram dan aplikasi jejaring sosial lainnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan netizen. 

Continue reading

Birmingham, Tunggu Aku Bulan Depan

Sekitar 2 bulan yang lalu, saya menulis tentang pengalaman mendaftar beasiswa LPDP. Sebulan berselang, tepatnya tanggal 21 Juli 2014 saya mendapat kabar gembira bahwa aplikasi saya diterima dan pihak universitas mengirimkan ‘conditional offer’. Beberapa hari kemudian, LPDP mengirim pemberitahuan bahwa saya mendapat jadwal Program Kepemimpinan (PK) untuk bulan Desember. Yah, itu berarti saya tidak bisa memproses pendaftaran saya dan dengan terpaksa saya pun melakukan defer untuk tahun depan. Meskipun demikian, pada waktu itu saya sempat bertanya apakah jadwal PK saya bisa maju, tapi tidak ada jawaban dari pihak LPDP.

Continue reading

Merajut Asa ke UK dengan Beasiswa LPDP

University of Birmingham

University of Birmingham

Sekitar 2 tahun yang lalu saat mulai masuk ke semester tujuh, saya mulai ancang-ancang untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Pada waktu itu, belum ada pikiran sama sekali mau lanjut ke mana dan dengan cara apa. Setahun berselang, saya mulai tenggelam dalam dunia kerja dengan merintis karir sebagai freelance designer. Berawal dari situ, kecintaan saya dengan dunia desain, terutama yang ada kaitannya dengan interface design dan human-computer interaction mulai tumbuh. Banyak hal yang pelajari selama menjadi desainer, mulai dari mengkomunikasikan ide dengan klien, berusaha memahami desain yang tak hanya bagus dari sisi tampilan tapi juga fungsionalitas, belajar memanajemen waktu serta belajar jadi juru tagih, terutama kalo invoice telat. hehe.

Continue reading

Icip-icip Ristorante, Nyicipin Masakan Italia dengan Rasa Indonesia

IMG_20140517_112006564_HDR

Kemarin, tepatnya tanggal 17 Mei 2014 saya berkesempatan mengikuti acara icip-icip Ristorante (terimakasih mamah tey untuk undangannya). Membaca judulnya saja saya langsung kemecer membayangkan makanan yang enak-enak. Setelah menyempatkan datang di acara reunian yang diadakan oleh kampus, saya pun mlipir bersama om yudan ke Ristorante. Jujur ini baru pertama kali saya datang ke resto yang desain tempatnya lucuk ini. Mungkin orang lebih mengenal tempat ini sebagai Holycow, bukan Ristorante, saya pun awalnya berpikiran demikian hehehe. Jebul setelah dijelaskan sama Mbak Ined, Ristorante itu salah satu cabang Madam Tan yang menyediakan menu masakan ala Italia dengan rasa Indonesia. Ristorante sendiri berasal dari bahasa Italia yang artinya Restoran. Bahasa Italia cen gitu ya, sering banget berakhiran -te.

Continue reading

Pengalaman Mengatasi PayPal yang Kena Limit

Selamat pagi sahabat,

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mengatasi paypal yang kena limit. Bagi yang terbiasa menggunakan PayPal, kena limit mungkin sesuatu yang pernah atau bahkan sering dialami. Saya sendiri baru saja mengalaminya beberapa hari yang lalau. Sebelumnya limit PayPal itu apa sih? Jane ada banyak definisi, tapi secara sederhana limit itu biasanya adalah pembekuan aktifitas akun PayPal sementara karena adanya transaksi yang mencurigakan. Saat dalam kondisi limit, kita tidak bisa withdraw atau menggunakan balance PayPal yang kita punya. Lalu bagaimana ceritanya kok PayPal saya bisa kena limit?

Jadi kronologisnya seperti ini… Pada tanggal 9 Mei 2014, saya mengirimkan invoice ke klien untuk pembayaran job yang sudah selesai. Karena klien saya ini satset dan batbet, malam hari saya dapat surel dari PayPal yang menyatakan kalo klien saya udah transfer.

Screen Shot 2014-05-11 at 7.28.40 AM copy copy

Sekilas tidak ada yang salah dari isi surel tersebut, saya pun awalnya hanya melihat sekilas dan mencocokkan jumlah balance yang dikirim dengan nilai yang tertera di invoice. Waktu itu saya hanya baca sekilas karena sedang ngurusi acara. Setelah acara selesai, saya baca lagi surel tersebut  karena kalo soal pembayaran atau sesuatu yang ada hubungannya dengan finansial, saya biasanya sangat teliti. Eng ing eng… saya baru sadar ternyata balance tersebut dikirim ke surel saya yang tidak terdaftar di PayPal. Saya kaget dan baru ngeh karena surel yang saya gunakan di PayPal adalah akun yahoo, lha itu dikirimnya ke surel saya yang satunya. Kemudian saya baca lagi surel tersebut lebih teliti, ternyata kita bisa menambahkan lebih dari satu surel dalam satu akun PayPal (duh ini salah saya ndak baca ToS Paypal). Oke, saya pun langsung menambahkan surel  baru di PayPal dan tak lama kemudian balance PayPal saya nambah yang berarti kiriman dari klien sudah masuk ke akun PayPal saya. Selang 2 jam kemudian saya mendapat surel dari PayPal yang dikirim ke akun yahoo saya yang menyatakan bahwa akun PayPal saya kena limit.

Screenshot_2014-05-11-07-50-07

Setelah saya pikir, wajar jika akun saya langsung kena limit, akun surel yang ditambahkan baru beberapa saat langsung dapet kirimian balance sekian dolar ya pantes aja kalo aktifitas tersebut dicurigai oleh PayPal. Mendapati ada sesuatu yang tak beres, saya pun mengikuti instruksi dari PayPal dengan masuk ke menu Resolution Center. Di situ saya diminta untuk melakukan konfirmasi nomor kartu kredit dan mengunggah bukti alamat. Sat set bat bet saya pun melakukan sesuai instruksi dari PayPal dan berharap limit saya segera dilepas sama PayPal. Tapi berharap PayPal akan menyelesaikan kasus ini secara cepat itu rasanya kayak berharap dapat pendamping wisuda, lama dan ndak pasti kapan. Atas saran dari mas Wisnu, saya memutuskan untuk menunggu keesokan harinya untuk telpon ke customer service PayPal yang ada di Singapura.

Keesokan harinya saya telpon ke CS PayPal. Untung XL punya layanan telpon keluar negeri yang lumayan terjangkau. Pokok e ini bukan iklan lha wong kenyataannya begitu #halah. Oke balik lagi ke masalah tadi. Telpon saya ditanggapi oleh mbak mbak CS yang saya lupa namanya. Dengan bahasa Inggris yang you know I know, saya pun telpon-telponan sama mbak CS itu. Setelah ditanyakan konfirmasi tentang nomor bank dan nama, kemudian mbaknya tanya masalahnya apa. Saya kemudian menjelaskan kronologisnya sampai akun saya kena limit. Mbaknya juga tanya kerjaan saya apa, lantas saya jawab kalo saya ini disener. Kemudian mbaknya tanya lagi saya promosi di apa, suruh nyebutin website saya. Tiba-tiba saya inget akun behance saya, saya pun menyebutkan alamat profile behance saya dan mbaknya langsung paham. Tanpa banyak usaha nyepik, akhirnya mbaknya bilang kalo 5 menit kemudian limit saya akan dilepas. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih ke mbaknya yang baik banget itu. 5 menit kemudian saya dapet surel dari PayPal yang menyatakan kalo limit saya udah dilepas. Horeee

Screenshot_2014-05-11-08-06-31

 

Senang rasanya bisa ikut menikmati euforia gajian di awal bulan seperti PNS dan pegawai kantoran.

Nah, pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini adalah:

  1. Kalo PayPal kena limit, ndak usah panik. Langsung telpon aja ke CS nya PayPal, jangan lupa siapkan nomor rekening bank dan nomor kartu kredit.
  2. Jika kamu freelancer dan ditanyain kerjaanya apa, jawab aja langsung ke jenis kerjaan kamu biar meyakinkan. Lebih bagus kalo kamu punya portfolio jadi pas ditanyain gitu bisa jawab.
  3. Punya akun behance ternyata penting, selain bisa digunakan sebagai media pencitraan, akun behance bisa digunakan sebagai media portfolio yang cukup meyakinkan.
  4. Jangan lupa selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian #halah dan yang paling penting adalah selalu bersyukur kalo invoice cair #halahlagi

Perlunya Belajar Tentang Cinta dan Manajemen Rasa

file0001702152465

Akhir-akhir ini saya sering membaca berita menyedihkan tentang kelakuan remaja yang kalap karena urusan cinta. Penganiayaan sampai pembunuhan yang diawali dari perasaan sakit hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan sudah menjadi hal yang semakin biasa seperti angin lalu saja. Rasanya remaja masa kini telah mengalami pendewasaan dini dan dengan pengetahuan yang minim mereka seakan mengumbar rasa tanpa belajar bagaimana mengendalikannya. Konten dari televisi maupun media sosial seakan menjadi racun yang membutakan mata hati dan pikiran.

Lantas apa yang salah? Hmmm, menurut saya banyak, salah satunya adalah minimnya usaha untuk belajar tentang manajemen rasa dan sedikitnya pendampingan dari orang tua. Cinta merupakan perasaan yang wajar dan mulai dirasakan remaja, sayangnya ketika asmara remaja sedang membara, banyak orang tua yang seakan mengabaikannya. Minimnya komunikasi dan konsultasi antara orang tua dan anak membuat si anak mencari sendiri arti cinta. Nah, ini yang biasanya menjadi bumerang. Konsumsi konten yang tidak sesuai dengan umur seringkali membuat para remaja tak bisa menahan hawa nafsu dan perasaan yang menggebu. Tak ayal jiwa meraka tidak stabil dan ketika terjadi permasalahan dalam hubungan mereka, seringkali mereka kehilangan akal sehat dan … kalap. Saat ini entah sudah berapa nyawa yang melayang karena masalah dendam dan sakit hati yang terpendam.

Kalau sudah demikian, apa yang bisa kita lakukan? Mau tak mau, keluarga lah yang harus mulai memberikan pendidikan cinta dan manajemen rasa. Orang tua harus lebih peduli terhadap perkembangan anaknya dan mampu menjadi pendamping serta menjadi tempat konsultasi bagi anak mereka. Buanglah jauh-jauh anggapan bahwa cinta adalah sesuatu yang tabu. Berikan pengertian kepada mereka tentang apa itu cinta dan bagaimana seharusnya mereka membina rasa. Kesalahan terbesar orang tua sekarang menurut saya adalah menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah, menganggap bahwa sekolah menjadi tempat bagi anak untuk bertumbuh kembang dan mengalami kedewasaan, kemudian melepas tanggung jawab untuk mendidik anak dengan sibuk kerja dan kerja. Padahal keadaan di sekolah saat ini yang lebih mengutamakan nilai akademik dibanding dengan penanaman moral, membuat anak menjadi pribadi yang terlalu mengutamakan kecerdasan  intelektual dan sering mengesampingkan kecerdasan emosional serta spiritual. Kemudian yang terjadi ketika mereka galau, emosi mereka menjadi tidak stabil dan orang tua tidak bisa menjadi tempat untuk curhat… ujung-ujungnya mereka mencari pelampiasan dengan cara mereka sendiri.

Mungkin saya adalah orang yang sok tau karena belum pernah ada di posisi sebagai orang tua, tapi paling tidak itulah pandangan saya tentang cinta dan manajemen rasa. Semoga remaja di Indonesia ini tidak berlarut-larut terbuai dalam indahnya cinta tapi juga belajar bagaimana menjalaninya. Waktu muda itu sayang untuk dihabiskan hanya untuk memikirkan urusan cinta, lebih baik bekerja dan berkarya #halah

Ini Bukan Akhir, Tapi Awal Sebuah Takdir

IMG_20140227_081507

Alhamdulillah, pada tanggal 27 Februari 2014 yang lalu akhirnya saya bisa mengikuti proses yudisium. Dengan demikian saya telah menyelesaikan tanggung jawab sebagai mahasiswa dan pada akhirnya bisa membuat kedua orangtua saya tersenyum lega. Melihat kembali perjuangan dari awal menulis skripsi, rasanya saya tak bisa berhenti bersyukur karena banyak hal yang bisa diambil sebagai hikmah.

Cerita ini berawal dari ketertarikan saya terhadap bidang sistem pendukung keputusan. Sekitar pertengahan tahun 2012 saya mulai mencari topik yang ingin saya ajukan sebagai judul skripsi. Saat itu, tanpa sengaja saya menemukan naskah thesis dari mahasiswa pascasarjana di ITS tentang penilaian kualitas e-learning dengan menggunakan ISO 19796-1. Setelah saya baca-baca tentang thesis tersebut, saya tertarik dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). AHP merupakan salah satu metode dalam bidang sistem pendukung keputusan. Metode AHP ditemukan oleh Thomas L. Saaty pada sekitar tahun 1980. Saya tidak akan bercerita tentang metode AHP ini, yang jelas AHP telah menumbuhkan kembali kecintaan saya terhadap matematika. Iya, karena dalam metode AHP terdapat perhitungan matriks dan beberapa operasi matematika.

Singkat cerita saya pun memilih judul skripsi yang berkaitan dengan AHP, hingga pada tanggal 1 November 2012 Surat Keputusan pengangkatan pembimbing skripsi keluar, dengan demikian saya resmi mulai mengerjakan skripsi ini. Setelah 3 bulan berjalan saya menemui kesulitan dan mengalami kebuntuan dalam memecahkan rumus agregasi AHP. Entah kebetulan, bertepatan dengan saat itu, seorang klien saya menawarkan sebuah proyek yang menarik. Dengan maksud untuk istirahat dulu dari proses pengerjaan skripsi, saya pun mengerjakan proyek tersebut. Tak terasa sudah 3 bulan berlalu sampai akhirnya ada teman saya yang saat itu akan wisuda. Dari situ, semangat untuk kembali mengerjakan skripsi pun muncul kembali. Saya kemudian menemui dosen pembimbing. Beruntung karena dosen pembimbing saya berbaik hati dan memberikan referensi beberapa jurnal. Sekitar bulan Juni, saya mulai semangat mengerjakan skripsi sambil mengerjakan beberapa proyek yang pada waktu itu datangnya barengan. Tak hanya itu, beberapa kegiatan keluar kota juga membuat bulan-bulan itu cukup padat.

Hingga pada akhirnya datanglah waktu untuk ujian pendadaran. Tanggal 10 Desember 2013, saya melaksanakan ujian pendadaran skripsi. Di sinilah ujian yang sebenarnya datang. Dalam ujian tersebut, terdapat perbedaan pendapat yang fundamental antara saya dengan dosen penguji sampai akhirnya setelah selesai ujian, dosen pembimbing saya menawarkan solusi untuk mengganti metode dan mengulang ujian lagi. Pada waktu itu tak ada keraguan dalam diri saya karena saya yakin inilah proses yang harus ditempuh. Saya pun menyanggupi tawaran dari dosen pembimbing saya. Dalam waktu sebulan lebih sedikit, saya akhirnya bisa menyelesaikan skripsi versi 2 tersebut #halah. Saya sangat bersyukur karena punya banyak teman dan kenalan sehingga dalam proses pengambilan data banyak dibantu oleh mereka yang baik dan keren.

Tanggal 3 Februari 2014, ujian pendadaran untuk yang kedua kalinya dilaksanakan. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya dapat melaluinya dengan lancar. Setelah mengurus revisi dan beberapa administrasi, akhirnya 24 hari kemudian saya bisa mengikuti proses yudisium dan lulus sebagai sarjana.

Bukan perjalanan yang mudah memang saat harus menemui kebuntuan, membagi waktu antara pekerjaan dan skripsi hingga harus menempuh ujian sampai 2 kali. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari proses ini dan saya semakin menghargai apa itu proses. Mungkin kelulusan saya memang mundur dari target awal 4 tahun, tapi saya tidak menyesal karena saya bertanggungjawab terhadap keputusan itu dengan membiayai kuliah dan kebutuhan hidup sendiri. Di sini saya belajar apa itu mandiri dan manajemen diri.

Dan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah takdir. Saya adalah seorang pemimpi yang besar dan akan terus berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu karena saya percaya bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan mengeluh, oleh karena itu harus diisi dengan perjuangan dan peluh.

2014, Tahun untuk Memilih

Pintu

Tak terasa sudah sebulan terlewati di tahun 2014. Terasa cepat memang, bahkan rasanya baru kemarin euforia tahun baru kita rayakan. Iya, waktu memang rasanya begitu cepat berlalu, seperti uang di dompet yang was wus gitu aja. Duh malah surhat. Oke kita kembali ke topik tulisan ini.

Tahun 2014 adalah tahun yang spesial bagi saya karena tahun ini menentukan masa depan saya. Kalaupun tahun 2014 merupakan tahun pelaksanaan Pemilu di Indonesia saya percaya itu bukan sebuah kebetulan #halah. Kenapa saya ikut ngomongin Pemilu? karena Pemilu termasuk pilihan bukan? Halah, pokoknya gitu. Jadi gini… di tahun 2014 ini begitu banyak pilihan yang harus saya ambil, termasuk dalam bidang akademik. Saya sudah memantapkan diri saya kalo tahun ini saya kudu lulus karena bagaimanapun juga, kelulusan merupakan bentuk tanggung jawab saya sebagai mahasiswa. Target kuliah selesai 4 tahun terpaksa tak bisa tercapai karena di tengah jalan saya dihadapkan pada pilihan sulit dan tahun kemarin saya lebih memilih untuk lebih banyak bekerja untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

Awal masuk kuliah sebenarnya saya masih menjadi orang yang skeptis dan berencana untuk fokus kuliah saja agar cepet lulus. Hanya saja setelah masuk di dalam kehidupan kampus saya bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang keren yang sukses membuat saya mengubah mindset. Saya pun memperluas pergaulan dengan ikut bergabung di beberapa komunitas luar kampus. Mindset dan pandangan saya semakin terbuka, saya banyak belajar tentang kehidupan dari mereka. Hingga saya berani mengambil keputusan untuk menunda kelulusan, yang penting saya bertanggungjawab dengan keputusan saya ini. Alhamdulillah, saya tidak menyesal dengan keputusan yang saya ambil setahun yang lalu karena dalam kurun waktu setahun kemarin saya belajar banyak hal, seperti merintis karir di dunia UI Design dan berkesempatan ikut acara keren, yaitu ikut jadi volunteer di Casual Connect Asia serta ikut di Social Innovation Camp Asia.

Tahun ini, pilihan saya jatuh pada satu hal, yaitu: WISUDA. Pokoknya tahun ini saya kudu wisuda (- -)9, walaupun terpaksa harus ujian lagi tapi saya masih semangat demi mewujudkan cita-cita tertinggi setiap mahasiswaa itu.

Di tahun ini juga, saya juga harus memilih antara melanjutkan studi atau mengembangkan karir. Jikalau melanjutkan studi harus kemana. Sebenarnya saat ini saya sudah menetapkan pilihan, tapi mungkin masih belum mantap. Semoga bisa memantapkan pilihan tersebut dan semoga tahun 2014 ini semakin owsom!

Image : doors.jpg

Mengikuti Social Innovation Camp Asia

Tim Aidnesia berfoto dengan Tyler

Tim Aidnesia berfoto dengan Tyler

Hae, sebelumnya selamat tahun baru. Ndak papa baru ngucapin sekarang kan masih bulan Januari

Kali ini saya ingin terita tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan Social Innovation Camp Asia. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari #SICampJKT yang dulu kami ikuti. Awalnya kami tidak menyangka bisa ikut kegiatan keren ini karena di poster tertulis kalau tim yang berangkat SI Camp Asia hanya juara pertama. Ternyata kami salah karena 3 tim terbaik dari Jakarta berhak untuk mewakili Indonesia dan mengikuti SI Camp Asia yang tahun ini diadakan di Singapura.

Persiapan

Setelah pengumuman di Jakarta, kami (tim Aidnesia) berembug untuk persiapan keberangkatan. Kali ini kami ingin mempersiapkan segala sesuatunya agar lebih matang sehingga ndak keteteran lagi seperti di Jakarta. Dengan menambah 3 anggota tim, yaitu Banu, Rio dan Nova kami semakin serius mempersiapkan produk yang akan kami presentasikan di SI Camp Asia. Tak hanya persiapan produk, tapi juga akomodasi dan transportasi. Maklum, karena jumlah tim kami berdelapan, kami pun montang manting nyari penginapan yang terjangkau mengingat Singapura adalah salah satu negara dengan biaya hidup yang mahal.

Saya ditunjuk untuk mengurusi masalah penginapan ini. Awalnya saya kepikiran mau sewa apartemen yang muat berdelapan, tapi setelah cari-cari di Airbnb ternyata lumayan susah cari apartemen yang bisa ditempati oleh banyak orang, rata-rata maksimal 6 orang. Setelah tidak menemukan apartemen yang sesuai dengan kebutuhan, maka saya ganti nyari hostel yang murah. Beruntung, saat itu sedang ada promo dari Booking.com untuk kamar family room yang muat 4 bed per kamar. Karena harga yang ditawarkan lumayan murah saya pun langsung booking 2 kamar. Waktu itu bookingnya pas lagi di dalam kereta saat perjalanan menuju Jakarta. Maklum trauma kehabisan kamar pas diskon masih ada hehe.

Selesai urusan akomodasi, selanjutnya masalah transportasi. Jalur penerbangan Jogja-Singapura lumayan ramai sehingga harga tiket pun cukup terjangkau. Keberuntungan kami masih berlanjut karena pada waktu itu sedang ada promo dari tigerair untuk keberangkatan dan dari airasia untuk tiket pulang. Total tiket PP Jogja-Singapura sekitar  700rb-an. Cukup murah untuk hitungan booking dalam waktu kurang dari sebulan.

Akomodasi dan Transprotasi beres. Ternyata masih ada biaya yang harus dikeluarkan, yaitu bayar biaya selama kegiatan. Karena harga yang harus dibayar tidak murah dan kami akan berangkat berdelapan, kami pun bernegosiasi dengan Andrew  selaku penyelenggara. Ternyata Andrew baik dan kami diberi keringanan untuk bayar cukup 4 orang saja. Rasanya seperti mestakung #halah.

Setelah segala persiapan kita lakukan, tibalah hari keberangkatan. Sumpah saya gak akan lupa betapa hecticnya hari itu karena sebelum berangkat saya sudah harus mengumpulkan naskah skripsi dan menyelesaikan administrasi untuk pengajuan ujian pendadaran. Setelah wira-wiri kesana kemari dan dibantu oleh Laila, saya pun berhasil mengumpulkan naskah ujian tersebut tepat 2 jam sebelum keberangkatan. Dengan kondisi masih agak ngos-ngosan saya langsung ke bandara nyusul temen-temen yang sudah nunggu di sana.

Kedatangan

Singkat cerita, kami tiba di terminal 2 bandara Changi, malam hari sekitar jam 8 malam waktu Singapura. Jadi karena kita pengen hemat, makanya kita merencanakan malam pertama nginep di Changi. Ini kali ketiga saya ke Singapura dan rasanya bandara ini tetep aja nyaman banget, wajar jika Changi merupakan bandara terbaik di dunia saat ini. Setelah sholat dan  istirahat sejenak, kami mencari makan malam. Banyak pilihan menu yang tersedia di foodcourt Changi yang terletak di lantai 2. Seperti biasa, menu andalan kalau ke Singapura ya nasi lemak yang murah meriah dan halal. Setelah kenyang, kami lanjut untuk nonton di movie theatre yang ada di dalam bandara. Keren emang di dalam bandara ada semacam bioskop mini gitu. Selain movie theatre ada banyak fasilitas keren di Changi seperti kursi pijet gratis, koneksi internet sat set bat bet dan fasilitas hiburan lain, pokoknya top markotop. Malam itu kami istirahat dengan nyaman di Changi.

Pagi-pagi kami cari sarapan, kali ini nyobain kantin karyawan Changi yang terletak di luar. Kenapa kantin karyawan? karena murah #AnakKosHore. iya, di Changi ini ada kantin karyawan di mana pengunjung juga bisa makan di sini, letaknya ada di gedung sebelah terminal 2, pokoknya keluar lewat pintu utama trus belok kiri lurus terus, nanti ada parkiran trus belok kanan masuk lift naik ke lantai 2. Kantinnya ada di atas tangga. Di kantin ini lagi-lagi pesennya tetep nasi lemak.

Selesai sarapan kami pun menuju hostel. Nama hostelnya Mercury Backpackers Hostel. Hostel ini sangat recommended karena dekat dengan stasiun MRT Lavender dan dekat dengan halte bis. Ada kejadian lucu saat kami check in di sini. Waktu itu petugas resepsionis bilang kalo kami suruh bayar S$288, harga tersebut adalah setengah dari jumlah yang seharusnya kami bayar. Awalnya kami iyain aja dan dalam hati bersorak bahagia, siapa tau emang lagi ada diskon. Tapi ternyata petugas resepsionis salah baca, karena bookingnya 2 kamar, dikira cuma satu kamar #ndakjadihore. Setelah naruh barang dan mandi, kami pun bersiap ke lokasi acara di Plug-In@Blk 71.

Acara Camp

Nganu, lokasi acara ternyata lumayan jauh dari hostel tempat kami menginap. Butuh waktu sekitas 30 menit naik MRT untuk mencapai lokasi tersebut. Setelah sempat bingung mencari lokasi acara, kami pun menemukan dan baru paham kalo Blk itu singkatan dari Block bahaha. Okek, sampe di lokasi kami registrasi dan ternyata di sana sudah banyak tim lain, termasuk tim dari Indonesia yaitu Desa Deso, Claps dan Migrant Indonesia.

Sekitar jam 7 malem acara pun dimulai dengan dibuka oleh Andrew (SI Camp Asia), Kevin (Eden Institute) dan Marc (UNDP). Saya kira acara malam itu akan membosankan seperti acara pembukaan pada umumnya. Ternyata tebakan saya salah. Setelah pembukaan, sesi dimulai dengan perkenalan yang dipandu oleh Tyler (Unreasonable Institute). Nah bagian ini yang menurut saya paling seru. Jadi kita diharuskan berpasangan dengan orang lain yang belum kita kenal. Selama sekitar 30 menit kami diharuskan untuk ngobrol tentang topik-topik tertentu. Ini epic banget karena saya kebetulan dapet partner dari Filipina. Dia cewek, namanya susah diucapin, yang jelas panggilannya Adi juga. Banyak topik yang kami obrolkan mulai dari orang yang pengen diajak dinner sampai hal-hal personal tentang kehidupan. Pokoknya seru banget pas sesi itu. Jam 10 acara hari pertama selesai dan dilanjutkan dengan acara dance. Tapi berhubung temen-temen dari Aidnesia udah kecapekan maka kami memutuskan untuk langsung balik ke hostel

Acara hari kedua dan ketiga banyak diisi dengan materi tentang bisnis dan pitching. Dari pagi sampe malem kami berlatih pitching, pitching dan pitching, sampe Laila mukanya kusut :)). Hari kedua itu yang epic karena ternyata kami kedatangan tamu. Ada banyak mentor yang datang dari berbagai latar belakang, yang jelas mereka semua keren. Masing-masing tim harus melakukan elevator pitch ke tiap mentor, ini juga menurut saya sesi yang epic. Setelah elevator pitch, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mentoring. Beruntung dalam kesempatan tersebut kami dapat mentor yang nyambung dan ngasih beberapa ide dan masukan yang sangat bagus.

Acara hari ketiga… Di hari ketiga ini, saya bolos gak ikut acara pagi karena malamnya lembur nyiapin materi pitching bareng Laila. Karena itung-itungan waktu yang mepet, kami memutuskan langsung menuju ke DBS Auditorium, tempat presentasi akhir dan gak ke Plug-In@Blk71 dulu. Gedung DBS ini keren, gedhe banget tapi toiletnya mbingungi (ini beneran, kalo ga percaya coba buktiin cari toiletnya). Di sana, masing-masing tim kembali menyampaikan presentasi tentang produk yang mereka kembangkan. Sumpah, semua presentasi dari tim yang ikut keren banget! Setelah presentasi selesai, dilanjutkan dengan sesi networking. Di acara tersebut banyak tamu yang hadir baik dari UNDP maupun dari beberapa expert.

Hooolaaaaa, rangkaian acara SI Camp Asia pun selesai. Setelah acara, malam itu kami habiskan dengan jalan-jalan di sekitar Marina Bay dan foto dengan latar belakang Merlion biar sah ke Singapura. Malam itu saya kalap karena lapar dan makan habis banyak banget di salah satu tempat makan cepat saji di daerah Bugis.

Okek, hari keempat agendanya adalah… Jalan-jalan. Agar kunjungan ke Singapura semakin sah, maka kami pun mengunjungi Resort World Sentosa. Sebagai traveller yang hemat, kami pun milih naik bis yang murah. Tiket bis dari Vevo City (halte terakhir sebelum RWS) ke Resort World Sentosa adalah S$2, lumayan murah daripada harus jalan kaki seperti yang saya lakukan dulu lewat Broadway Walk yang panjangnya sekitar 1 km dan ternyata bayar tiket masuk S$1. Di Sentosa kita ndak masuk ke Universal Studio karena tiketnya mahal . Kamipun hanya melakukan ritual wajib kalo ke Sentosa, apalagi kalo bukan foto di depan USS. Setelah jalan-jalan ndak jelas kami memutuskan balik kembali ke kota #halah. Pulang dari Sentosa, selanjutnya kami nganter emak-emak  anggota tim cewek yang-katanya-mau-shopping di Orchard. Walaupun dulu udah pernah ke Orchard, tapi tetep aja saya masih bingung kalo harus muter-muter keliling mall di sini yang mbingungi. Malam tiba, rombongan misah, katanya ada yang mau ke Chinatown dulu, biasa beli oleh-oleh yang-pasti-ada-gantungan-kunci-sepuluhdolar-dapet-tigapuluh itu :))

Pulang

Kami pun janjian ketemu di hostel. Setelah packing dengan tas yang makin membesar, malam itu kami checkout dan memutuskan untuk nginep di bandara lagi biar hemat. Sayang sekali, terminal 1 tempat pesawat kami berangkat tak sebesar terminal 2. Karena waktu itu kondisi sudah malam, kita ndak bisa masuk untuk check in dan menikmati fasilitas enak-enak di dalem. Terpaksa malam itu kami nginep dalam kondisi ndlosor di bandara yang dinginnya ndak nyante itu. Lumayan, nambah pengalaman nginep di bandara yang makin banyak setelah tahun lalu saya juga nginep di bandara Ngurah Rai. Okek, pagi itu 2 Desember cuaca Singapur cukup bersahabat. Setelah sempat hectic karena salah check in, kami pun bisa masuk. Tapi saya masih dongkol sama petugas di sana. Pas lewat pemeriksaan fi-scan, parfum saya yang isinya kurang dari 100ml itu disuruh buang, padahal kan sayang, huiks.

Err… setelah menunggu sekitas 20 menitan, pesawat pun boarding. Dalam perjalanan pulang saya sudah sangat ngidam indomie telor. Sesampainya di Jogja, kami disambut hujan yang lumayan deras, alhasil sore itu sangat sempurna dengan semangkok indomie telor khas burjo yang-tidak-bakal-ditemukan-di-Singapura.

Sekian cerita tentang pengalaman saya ikut SI Camp Asia sekalian jalan-jalan di Singapura. Pokoknya terimakasih tim Aidnesia (Banu, Rizky, Rio, Nova, Laila, Reni, Beni, Mas Fafa), kalian keren. Semoga tahun ini kita bisa menyelesaikan produk kita ini agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan siapa tau tahun ini kita jalan-jalan lagi #ihik.