Membangun kembali kebiasaan lama: membaca

Salah satu resolusi saya di tahun 2015 ini cukup sederhana, tapi susah untuk dilakukan. Resolusi tersebut adalah membaca. Sewaktu kecil dulu, saya memiliki kebiasaan membaca. Salah satu bacaan favorit saya waktu itu adalah majalah Bobo. Kata bapak saya dulu, membaca itu bagus untuk masa depan. Saya yang waktu itu masih blah bloh hanya bisa mengiyakan. Awalnya saya hanya antusias menunggu bonus dari majalah yang terbit tiap kamis itu, bonus yang berupa mainan atau barang-barang DIY. Lama-lama saya tertarik juga dengan rubrik di majalah Bobo yang banyak banget dan sangat sesuai dengan anak-anak seusia saya saat itu. Continue reading

Tentang Bapak yang Luar Biasa

FullSizeRender

Sejak mengenal Manchester United dari sebuah majalah anak yang bernama Bobo di tahun 1998, saya menjadi tertarik dengan sepakbola dan punya mimpi untuk bisa melihat pertandingan Manchester United secara langsung di negara asal klub sepakbola tersebut, yaitu Britania Raya. Kemudian di tahun 2002 muncul film Harry Potter yang diulas di majalah yang sama dan saya kembali bermimpi bisa melihat secara langsung seperti apa platform 9 3/4 yang ada di King’s Cross Station itu. Beranjak remaja saya mengenal Sherlock Holmes, kisah seorang detektif yang berkantor di Baker Street nomor 221B itu dengan segala kepiawaiannya dalam menyelediki kasus. Saya juga sering berselancar di dunia maya dan menemukan foto-foto Big Ben, Tower Bridge dan Old Trafford, kemudian bermimpi suatu saat nanti bisa melihatnya secara langsung.

Continue reading

Tentang Bahasa

Beberapa hari ini, ada sesuatu yang terus mengusik kepala saya, yaitu tentang bahasa. Menurut saya, bahasa adalah salah satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa menjadi media penting dalam berinteraksi dengan orang lain, seperti kutipan dari tulisan mas Ivan Lanin berikut:

Kemampuan berbahasa adalah kunci untuk bisa menyampaikan ide dengan baik. Tanpa adanya ini, seberapa baiknya pun suatu ide yang kita punyai, niscaya sulit untuk menyebarkannya.

Tautan sumber di sini

Continue reading

Salam dari Birmingham

Besok adalah hari rabu, tepat 3 minggu sejak kedatangan saya ke Birmingham, kota yang akan menjadi rumah selama setahun ke depan. Pindah ke benua yang berbeda, terpisah jarak lebih dari 15,000km membuat saya cemas pada awalnya karena ada beberapa hal yang masih belum beres, walaupun pada akhirnya semua baik-baik saja. Saya akan mencoba untuk mengingat kembali saat-saat keberangkatan yang agak mendebarkan itu dalam tulisan berikut…

Continue reading

Tips Lolos Beasiswa LPDP

LPDP PK 17

Ketika saya akan berangkat ke Birmingham, saya berjanji untuk menulis tentang tips agar lolos beasiswa LPDP karena saya berharap lebih banyak anak muda Indonesia yang mau belajar untuk membangun bangsa ini di masa depan.

Sebelumnya saya ingin menekankan kalo tips-tips ini hanya berdasarkan asumsi dan pengalaman saya, dengan harapan temen-temen yang mau daftar besasiswa LPDP bisa mempersiapkannya dengan baik sehingga tips-tips ini tidak akan menjamin temen-temen pasti lolos. Semua bergantung pada usaha dan doa temen-temen.

Jadi biar gak kepanjangan, langsung aja ya… Continue reading

Tentang Jejaring Sosial dan Hubungannya dengan Moral

 

Social MediaKasus Flo yang akhir-akhir ini muncul di berbagai media menambah panjang daftar perkara yang berawal dari social media. Memang tak bisa dipungkiri, di era internet seperti sekarang ini, rasanya hidup kita tak bisa dipisahkan dari segala hal yang ada hubungannya dengan informasi, termasuk berbagai macam aplikasi jejaring sosial yang kita gunakan setiap hari. Facebook, Twitter, Path, Blog, Instagram dan aplikasi jejaring sosial lainnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan netizen. 

Continue reading

Birmingham, Tunggu Aku Bulan Depan

Sekitar 2 bulan yang lalu, saya menulis tentang pengalaman mendaftar beasiswa LPDP. Sebulan berselang, tepatnya tanggal 21 Juli 2014 saya mendapat kabar gembira bahwa aplikasi saya diterima dan pihak universitas mengirimkan ‘conditional offer’. Beberapa hari kemudian, LPDP mengirim pemberitahuan bahwa saya mendapat jadwal Program Kepemimpinan (PK) untuk bulan Desember. Yah, itu berarti saya tidak bisa memproses pendaftaran saya dan dengan terpaksa saya pun melakukan defer untuk tahun depan. Meskipun demikian, pada waktu itu saya sempat bertanya apakah jadwal PK saya bisa maju, tapi tidak ada jawaban dari pihak LPDP.

Continue reading

Merajut Asa ke UK dengan Beasiswa LPDP

University of Birmingham

University of Birmingham

Sekitar 2 tahun yang lalu saat mulai masuk ke semester tujuh, saya mulai ancang-ancang untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Pada waktu itu, belum ada pikiran sama sekali mau lanjut ke mana dan dengan cara apa. Setahun berselang, saya mulai tenggelam dalam dunia kerja dengan merintis karir sebagai freelance designer. Berawal dari situ, kecintaan saya dengan dunia desain, terutama yang ada kaitannya dengan interface design dan human-computer interaction mulai tumbuh. Banyak hal yang pelajari selama menjadi desainer, mulai dari mengkomunikasikan ide dengan klien, berusaha memahami desain yang tak hanya bagus dari sisi tampilan tapi juga fungsionalitas, belajar memanajemen waktu serta belajar jadi juru tagih, terutama kalo invoice telat. hehe.

Continue reading

Icip-icip Ristorante, Nyicipin Masakan Italia dengan Rasa Indonesia

IMG_20140517_112006564_HDR

Kemarin, tepatnya tanggal 17 Mei 2014 saya berkesempatan mengikuti acara icip-icip Ristorante (terimakasih mamah tey untuk undangannya). Membaca judulnya saja saya langsung kemecer membayangkan makanan yang enak-enak. Setelah menyempatkan datang di acara reunian yang diadakan oleh kampus, saya pun mlipir bersama om yudan ke Ristorante. Jujur ini baru pertama kali saya datang ke resto yang desain tempatnya lucuk ini. Mungkin orang lebih mengenal tempat ini sebagai Holycow, bukan Ristorante, saya pun awalnya berpikiran demikian hehehe. Jebul setelah dijelaskan sama Mbak Ined, Ristorante itu salah satu cabang Madam Tan yang menyediakan menu masakan ala Italia dengan rasa Indonesia. Ristorante sendiri berasal dari bahasa Italia yang artinya Restoran. Bahasa Italia cen gitu ya, sering banget berakhiran -te.

Continue reading