Tentang Bahasa

Beberapa hari ini, ada sesuatu yang terus mengusik kepala saya, yaitu tentang bahasa. Menurut saya, bahasa adalah salah satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa menjadi media penting dalam berinteraksi dengan orang lain, seperti kutipan dari tulisan mas Ivan Lanin berikut:

Kemampuan berbahasa adalah kunci untuk bisa menyampaikan ide dengan baik. Tanpa adanya ini, seberapa baiknya pun suatu ide yang kita punyai, niscaya sulit untuk menyebarkannya.

Tautan sumber di sini

Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh mas Ivan tersebut. Kekuatan bahasa cukup besar, hingga terkadang pengaruh bahasa bisa sampai ke rasa. Pemilihan kata dalam bahasa yang kita gunakan memiliki pengaruh yang berbeda dan menghasilkan reaksi yang beragam. Bahkan di beberapa daerah, penggunaan bahasa diatur dalam adat dan tata krama, seperti dalam kebudayaan Jawa yang mengenal istilah ‘krama inggil’, yaitu tata cara berbahasa dengan orang lain, terutama dengan orang yang lebih tua.

Bahasa menurut saya merupakan hasil dari kebudayaan. Hal inilah yang membuat saya berpikir bahwa seharusnya saya mulai menggunakan bahasa dengan baik. Di era informasi yang serba digital seperti sekarang, seringkali kita menggunakan bahasa dengan seenaknya, saya pun demikian. Sebenarnya hal ini tidak seutuhnya salah karena pada dasarnya komunikasi adalah tentang kesepahaman. Dalam komunikasi di situs jejaring sosial, tidak ada salahnya menggunakan bahasa yang informal karena kita berinteraksi dengan tujuan menjalin keakraban. Namun terkadang saya merasa risih ketika saya menemukan kesalahan dalam pemakaian imbuhan. Salah satu kesalahan yang sering saya temukan adalah pemakain imbuhan di. Saya sering menemukan penulisan di yang tidak tepat, misalnya menuliskan di sebagai kata depan tapi disambung (berikut tulisan tentang penggunaan di yang benar)

Saya cukup risih dengan kesalahan penulisan seperti itu, walaupun terkadang saya sendiri melalukannya. Jika bahasa yang digunakan bisa dipahami oleh kedua pihak yang berkomunikasi maka komunikasi tersebut berjalan dengan baik, tapi menurut saya bahasa bukan hanya tentang pemahaman, tapi juga tentang aturan. Sebagai hasil dari kebudayaan, sudah selayaknya kita menghargai kebudayaan tersebut dengan cara menggunakan bahasa yang benar, walaupun dalam ragam komunikasi informal tak ada salahnya kita sekali-kali menggunakan bahasa yang tidak baku agar komunikasi terjalin lebih erat dan akrab. Meskipun demikian, jangan sampai kebiasaan menggunakan bahasa tidak baku dalam ragam komunikasi informal kita bawa ke ragam komunikasi formal dan tetap perhatikan aturan serta tata krama ketika menggunakan bahasa. Gunakan bahasa sesuai kondisi dan interaksi yang sedang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *