Tentang Bapak yang Luar Biasa

FullSizeRender

Sejak mengenal Manchester United dari sebuah majalah anak yang bernama Bobo di tahun 1998, saya menjadi tertarik dengan sepakbola dan punya mimpi untuk bisa melihat pertandingan Manchester United secara langsung di negara asal klub sepakbola tersebut, yaitu Britania Raya. Kemudian di tahun 2002 muncul film Harry Potter yang diulas di majalah yang sama dan saya kembali bermimpi bisa melihat secara langsung seperti apa platform 9 3/4 yang ada di King’s Cross Station itu. Beranjak remaja saya mengenal Sherlock Holmes, kisah seorang detektif yang berkantor di Baker Street nomor 221B itu dengan segala kepiawaiannya dalam menyelediki kasus. Saya juga sering berselancar di dunia maya dan menemukan foto-foto Big Ben, Tower Bridge dan Old Trafford, kemudian bermimpi suatu saat nanti bisa melihatnya secara langsung.

Pada waktu itu saya menganggap bahwa semuanya hanyalah mimpi belaka. Betapa tidak, besar sebagai anak desa, 60km di selatan kota Yogyakarta, saya menghabiskan masa kecil seperti anak desa lainnya. Satu-satunya akses media yang berisi berita internasional pada waktu itu hanyalah majalah Bobo, sebuah majalah anak yang sangat terkenal pada waktu itu. Saya merasa sangat beruntung dan berterimakasih kepada Bapak saya yang dulu berlangganan majalah itu, katanya agar saya rajin membaca. Karena rumah yang jauh dari kota, majalah yang setiap minggunya dicetak pada hari kamis itu selalu sampai rumah pada hari jumat, oleh karena itu hari jumat adalah hari yang istimewa pada masa kecil saya. Saya masih inget betul cerita tentang keluarga Bobo, Bona si gajah kecil berbelalai panjang dan temannya Rong Rong, Deni si Manusia Ikan, Oki dan Nirmala dalam Kisah Dari Negeri Dongeng dan rubrik-rubrik menarik lainnya. Bobo adalah kenangan masa kecil yang memberi pengaruh besar terhadap rasa keingintahuan saya.

Saat saya menginjak kelas 6 SD, Bapak saya mengenalkan saya kepada komputer untuk pertama kalinya. Saat itu Bapak mengajak saya untuk menemaninya lembur mengerjakan laporan akhir tahun di kantor dan saya dikenalkan dengan komputer tua dengan sistem operasi Windows 98. Satu-satunya hal yang menarik dari komputer yang saya kenal pada saat itu adalah game Prince of Persia. Setelah duduk di bangku kelas 1 SMP, Bapak saya membelikan saya komputer. Komputer pertama saya adalah Desktop PC dengan proses AMD Duron dengan casing simbadda dan monitor LG 505G. Sampai sekarang komputer tersebut masih walaupun komponennya sudah banyak yang diganti. Saya masih inget pada waktu itu kerjaan saya hanya main game sampai saya dimarahi dan gak boleh main kecuali hari sabtu dan minggu. Pada waktu itu saya juga dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar untuk mengikuti les bahasa Inggris, kata Bapak biar nanti bisa casciscus ngomong pakai bahasa Inggris. Saya waktu itu ikut aja meskipun kadang malas karena untuk menuju tempat lesn yang jaraknya 30km dari rumah harus naik bis dulu. Setelah mengikuti les dari tingkat elementary (setingkat SD) sampai tingkat intermediate (setingkat SMP) saya bahagia banget pas lesnya selesai karena gak perlu jauh-jauh berangkat les lagi hehe. Tapi ada yang menyenangkan dari kegiatan les ini, yaitu kalau pulang bisa mampir beli VCD game PS bajakan yang bisa dimainkan pakai emulator di PC. Kalau tidak salah harganya waktu itu 10rb per keping di tempat langganan saya, sekitar pasar Argosari, Wonosari.

Dari yang kerjaannya hanya main game, kemudian Bapak saya membawakan buku-buku tentang komputer yang dipinjam dari perpustakaan di kantornya. Buku yang pertama saya baca adalah tentang cara menggunakan Windows 98. Berawal dari situ saya mulai utak-atik komputer saya hingga saya salah menghapus file system dan akhirnya gak bisa booting. Jaman dulu ada masalah seperti ini saja langsung bawa komputer itu ke tempat service center. Pada waktu itu di SMP saya juga mendapat pelajaran tentang komputer, jam pelajarannya 2 jam per minggu dan menjadi salah satu pelajaran favorit. Ujian akhir pelajaran komputer pada waktu itu adalah membuat web dengan Microsoft Frontpage. Saya masih inget website pertama yang saya buat dengan menggunakan 3 kolom dan ditulis dalam kode HTML sederhana itu.

Melihat ketertarikan saya terhadap komputer, Bapak menawarkan kepada saya untuk melanjutkan ke SMK, bak gayung bersambut saya pun mengiyakan tawaran itu dan melanjutkan pendidikan ke SMK 2 Wonosari dengan mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Di jenjang ini saya mulai serius belajar komputer, utak-atik ini itu sampai dulu pernah sok-sokan bikin virus yang tutorialnya dapet dari internet dan bikin komputer satu lab ngehang. Di jenjang ini pula saya berkesempatan mengikuti Lomba Keterampilan Siswa, ajang paling bergengsi bagi anak SMK untuk unjuk kemampuan di bidang masing-masing. Sampai akhirnya saat mau lulus saya mulai memikirkan tentang jenjang selanjutnya, yaitu perguruan tinggi. Pilihan pertama saya pada waktu itu adalah UGM dan saya pun mengambil jalur tanpa tes dengan mendaftar ke salah satu universitas terbaik di Indonesia tersebut. Namun sayang, saya tidak lolos. Sebenarnya masih ada kesempatan mendaftar melalui jalur SNMPTN tapi saya merasa gak pede untuk ikut tes tersebut karena menyadari kemampuan akademik saya yang pas-pasan dibanding keterampilan praktik. Pilihan yang kedua pada waktu itu adalah UAD dan Amikom yang sepertinya jurusan TI nya bagus, tapi kata Bapak terlalu mahal. Sampai akhirnya ada informasi jalur tanpa tes untuk melanjutkan ke UNY dan atas rekomendasi dari Ketua Prodi saya di SMK, saya mencoba mendaftar melalui jalur tersebut. Alhamdulillah saya lolos dan pada bulan Agustus 2009 saya resmi menjadi mahasiswa UNY.

Kehidupan di kampus pada waktu itulah yang banyak menempa saya dan mengajarkan banyak hal tentang hidup. Saat itu juga pertama kalinya saya harus meninggalkan keluarga di rumah walaupun jaraknya 60km dari rumah jadi tiap minggu bisa pulang hehe. Di jenjang perguruan tinggi saya mulai belajar cari uang sendiri, mulai dari bantu-bantu penelitian dosen, ikut lomba karya ilmiah hingga belajar ngerjair proyek sendiri. Jaringan pertemanan saya pun tambah banyak dan saya yang dulunya introvert mulai berani berinteraksi dan membaur dengan teman-teman. Di tahun kedua kuliah Bapak saya bilang, kata beliau kalau bisa nanti lanjut S2 nya ke luar negeri. Waktu itu sih saya hanya mengiyakan tanpa ada bayangan sama sekali. Waktu terus berlalu hingga tak terasa 5 tahun berjalan, karena sibuk ngerjain proyek dan milih topik skripsi yang sok dan terlalu susah akhirnya saya baru bisa menyelesaikan jenjang S1 saya dan diwisuda bulan Mei tahun 2014 ini. Awalnya sih sempet minder sama teman-teman yang selesai lebih cepat tapi setelah melihat apa yang saya kerjakan selama ini saya mengambil banyak pelajaran dari situ. Sewaktu masih sibuk dengan skripsi Bapak saya pun juga sering menanyakan sampai mana dan saya menjelaskas ini itu, kadang memang saya hanya cari-cari alasan.

Saat-saat terakhir di bangku kuliah, saya mulai memikirkan dengan serius tentang rencana masa depan. Saya pun menulis tentang tahun 2014 sebagai tahun untuk memilih dan saya juga nulis setelah saya yudisium bulan Februari yang lalu di sini.

Hingga akhirnya kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri datang dari beasiswa LPDP. Saya menuliskan tentang kisah saya yang akhirnya bisa mendapatkan beasiswa ini di sini.

Tahun ini merupakan tahun yang luar biasa karen banyak mimpi masa kecil saya yang saat ini menjadi nyata. Semua itu tak lepas dari peran Bapak yang luar biasa. Kapan-kapan saya juga mau cerita tenang Ibu saya yang tak kalah luar biasanya. Saya bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung.

 

Ditulis di tengah dinginnya malam di Birmingham yang baru diguyur hujan salju, Sabtu 27 Desember 2014 pukul 2:56 GMT

2 responses to “Tentang Bapak yang Luar Biasa”

  1. pulung says:

    ah, mimpi dan motivasi ke Inggris-nya hampir sama. Tentang MU khususnya. Sayangnya, saya belum kesampaian ke sana. Semoga ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *