Salam dari Birmingham

Besok adalah hari rabu, tepat 3 minggu sejak kedatangan saya ke Birmingham, kota yang akan menjadi rumah selama setahun ke depan. Pindah ke benua yang berbeda, terpisah jarak lebih dari 15,000km membuat saya cemas pada awalnya karena ada beberapa hal yang masih belum beres, walaupun pada akhirnya semua baik-baik saja. Saya akan mencoba untuk mengingat kembali saat-saat keberangkatan yang agak mendebarkan itu dalam tulisan berikut…

Hanya berselisih 3 hari setelah selesainya Program Kepemimpinan, saya harus berangkat dari Jogja ke Birmingham. Berhubung dokumen asli yang saya gunakan untuk mengurus visa belum sampai di kantor VFS Jakarta, maka saya terpaksa memilih penerbangan pagi dari Jogja dengan harapan saya bisa mampir ke kantor VFS untuk mengambil dokumen. Berangkat jam 4 pagi dari rumah di Saptosari yang jaraknya 60km dari Jogja, saya diantar keluarga menembus dinginnya pagi itu. Karena jalanan belum ramai, hanya dalam waktu 1 jam saya sudah sampai di bandara. Sampai di bandara saya niatnya check-in bagasi dulu agar gak repot bawa koper yang cukup besar, tapi ternyata check-in bagasi baru dibuka satu jam lagi. Setelah sholat shubuh, ada kejutan datang. Iya, teman-teman saya yang baik datang ke bandara. Senang rasanya mereka datang, terlebih di pagi hari yang biasanya masih pada molor di kontrakan 😀

Sekitar pukul 6:00, counter check-in dibuka, saya pun masuk dan menitipkan koper. Sewaktu petugas check-in menanyakan tujuan akhir penerbangan, saya menjawab Birmingham. Eh ternyata karena saya pakai KLM untuk penerbangan dari Jakarta-Birmingham, saya bisa menggunakan fasilitas transfer bagasi walaupun penerbangan dari Jogja-Jakarta dan Jakarta-Birmingham bukan connected flight. Beres dengan urusan check-in, saya keluar untuk menemui keluarga dan teman-teman dan menyempatkan foto sebelum boarding.

IMG_2300 IMG_2299
 Foto dengan keluarga dan teman-teman yang mengantar ke bandara

Singkat cerita, saya pun boarding dan sampai di Jakarta sekitar pukul 8:55. Sesampainya di Jakarta, saya langsung menuju ke kantor VFS, berharap dokumen saya sudah sampai dan bisa saya bawa ke Birmingham. Tapi sialnya, hari itu dokumen saya belum sampai padahal sudah lewat lebih dari seminggu sejak paspor dan visa saya sampai. Waktu itu saya sempat cemas dan menanyakan ke teman-teman apakah nanti saat tiba di Inggris dokumen tersebuh akan ditanyakan. Beberapa teman meyakinkan saya kalau tak apa-apa dan bisa menggunakan dokumen fotokopi. Beruntung saya masih punya salinan beberapa dokumen tersebut walaupun dalam bentuk soft copy yang masih tersimpan di kantor IDP (terimakasih Mas Greg atas bantuannya).

Saya pun meyakinkan diri untuk tetap berangkat dengan modal salinan dokumen yang saya miliki. Kesialan hari itu berlanjut, saya naik taksi Express dan kampretnya si supir taksi sempat coba muter-muter lewat Jalan Rasuna Said, untung bawa Google Maps jadi bisa negur pak sopir yang ngeselin itu. Perjalanan dari Jakarta pusat ke bandara Soekarno Hatta yang biasanya habis 100rb-an, pada saat itu habis sampai 150rb. Sampai di bandara saya buru-buru check-in dan lupa makan siang. Yasudah, karena sudah check-in dan lewat imigrasi saya terpaksa makan di dalam bandara yang harga makanannya tentu gak bersahabat sama kantong. Kenyang, saya pun menuju ke boarding gate. Sambil nunggu boarding, saya coba login ke iBanking BRI untuk mengecek saldo, sialnya (lagi) saya salah masukin password sampai 3 kali, alhasil iBanking BRI saya pun terblokir. 10 menit berselang panggilan boarding datang, setidaknya perasaan excited naik KLM pertama kali jadi obat gondok karena iBanknig yang terblokir. Iya, saya ini memang ndeso, baru pertama kali naik pesawat gede banget untuk penerbangan antar benua, biasanya cuma naik AirAsia yang mentok paling jauh cuma ke Singapura. Kekatrokan saya di pesawat berlanjut sewaktu saya bingung pakai fasilitas hiburan yang ada di pesawat. Setelah pencet sana-sini akhirnya saya bisa juga menggunakan fasilitas hiburan itu. Cen itu UX nya jelek #halah. Saya menghabiskan waktu di pesawat dengan nonton film, waktu itu milih film X-Men yang Days of Future Past karena kebetulan belum nonton. Hehehe. Berhubung ini penerbangan jarak jauh, dapat makannya gak cuma sekali dan makanan di KLM menurut saya lumayan enak, bersahabat sama lidah Indonesia ala saya ini.

Eh iya, ada perbedaan itinerary dari jadwal di tiket dengan rute yang dilewati karena ternyata pesawat tersebut transit dulu di Kuala Lumpur. Ah tak apa pikir, sekalian nyobain KLIA karena dulu pas ke Kuala Lumpur bandaranya ke LCCT (sekarang udah gak ada, diganti KLIA2). Transit di KL hanya sekitar 2 jam dan pesawat melanjutkan penerbangan ke Amsterdam. Penerbangan ini gak ganti pesawat, hanya kru dan pilotnya saja yang ganti. Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Amsterdam ditempuh dalam waktu kurang lebih 12 jam. Tanggal 24 September pagi, saya sampai di bandara Schipol, Amsterdam. Karena gate untuk penerbangan selanjutnya lumayan jauh, saya tak sempat beli makan walaupun waktu itu laper banget. Ternyata pas sampai di gate yang dituju, penerbangan ke Birmingham masih 2 jam lagi. haha saya memang kadang terlalu phobia telat.

Suasana di bandara Schipol, Amsterdam

Suasana di bandara Schipol, Amsterdam

Sambil menunggu saya nyalain laptop dan ngecharge ponsel sambil facetime dengan Banu dan Kak Aning. Wagu sekali karena saya belum mandi dan masih kusut, apalagi beda jam. Singkat cerita, jam 8:45 saya boarding dan melanjutkan perjalanan ke Birmingham. Kali ini penerbangan ditempuh dengan pesawat yang lebih kecil karena memang rutenya pendek.

Sekitar pukul 10:00 waktu bagian Birmingham, pesawat saya mendarat di Birmingham International Airport. Keluar dari pesawat udara dingin nan semriwing menyambut kedatangan saya. Nah, imigrasi di Inggris ini beda, sebelum ambil koper kita harus lewat imigrasi dulu. Di sini kekatrokan saya muncul lagi. Bingung karena belum megang kartu kedatangan, saya sempat panik, teryata bisa ambil kartunya di depan antrian. Maklum waktu itu antriannya lumayan panjang jadi gak tau kalo ada kartu di depan, padahal kan biasanya kartu kedatangan ada di belakang, di tempat yang mudah dicari. Pas sampai giliran saya dipanggil oleh petugas imigrasi, saya sempat deg-degan karena saya gak bawa satupun dokumen asli. Petugas imigrasi menanyakan CAS saya, saya pun menunjukkan CAS  yang saya simpan di ponsel, eh ternyata petugasnya ramah, malah saya sempat ditanyain beberapa hal dan beliau gak minta dokumen asli. Saya pun lega karena bisa lewat imigrasi dengan lancar.

Setelah mengambil koper, saya melanjutkan perjalanan dari bandara ke stasiun Selly Oak. berbekal informasi di papan yang ada di stasiun Birmingham Airport, saya pun membeli tiket yang harganya £3.9 sekali jalan. Perjalanan dari Birmingham International Airport ke Selly Oak transit dulu di New Street Station. Nah di sini saya sempat bingung mencari platform mana yang ke Selly Oak. Saya sempat bertanya ke dua orang sebelum saya tahu kalo saya harus lewat platform 11B pada waktu itu. Dengan rasa penasaran, excited campur deg-degan saya pun naik kereta menuju ke stasiun Selly Oak. Sampai di Selly Oak sekitar pukul 11:00 waktu setempat. Setelah menunggu sejam, Mbak Febry yang akan jadi housemate datang menjemput dan kami menuju ke rumah yang akan ditempati.

Stasiun Selly Oak

Stasiun Selly Oak

Sampailah saya di Selly Oak, Birmingham. Hampir 3 minggu di sini, saya merasakan seperti di rumah. Alhamdulillah orangnya baik-baik dan tidak meraskan homesick. Jetlag pun cuma saya rasakan di hari pertama karena di hari kedua saya coba joging sama teman saya walaupun pada akhirnya nyasar. Birmingham adalah kota yang sangat nyaman, terutama Selly Oak, karena di sini gak seramai di pusat kota. Rumah juga dekat dengan toko dan tempat makan, walaupun di rumah sering pada masak. Hampir tiap hari kami di sini masak masakan Indonesia, sehingga rasa kangen dengan masakan Indonesia bisa terobati.

Semoga selalu betah di sini dan studinya lancar hingga bisa menyelesaikan program master tahun depan. Kapan-kapan saya akan nulis lagi tentang cerita selama di sini. Salam dari Birmingham!

8 responses to “Salam dari Birmingham”

  1. Lady says:

    Waini cerita yang ditunggu-tunggu.
    Sama Dhi, sini juga phobia terlambat. Kalau ada hal2 yang bisa ganggu ontime, langsung panik. Haha.
    Tetep semangat dan ditunggu tulisan berikutnya. Pokoknya terus racuni kita-kita biar iri sama kamu. Hehehe…

    • adhiwie says:

      Getting at the airport or train station early is a must for me. Hahaha 😀

      Ditunggu ya Mbak Dhika, ada banyak cerita yang akan dishare

  2. Si Astin says:

    Semangat ms broww..,,cita2mu dlu pas diruang praktek TKJ terwujud..Sampaikan slmku pd Theater of dreamm..,, 😀 Mancunian

  3. hesti says:

    waahhh pengen kuliah ke uk, eiya aq punya temen di wolverhampton. kayae lumayad deket dr birmingham ya?

  4. Mitoriana says:

    mas Adhi.
    perkenalkan saya Mito. awardee LPDP PK 26.
    saya inshaAlloh berangkat ke Birmingham September 2015.
    mas saya mau tanya2 tentang registrasi di Birmingham dan beberapa hal terkait tempat tinggal.

    sekiranya kalo mas berkenan bisa membalas pesan ini secara pribadi ke email saya.
    terima kasih mas Adhi ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *